Thursday, 27 February 2014

DALIL PERAYAAN MAULID MENURUT AL-QURAN

FIRMAN ALLAH SWT.
قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ (58)
Katakanlah: “Dengan Karunia Allah Dan Rahmat-Nya, Hendaklah Dengan Itu Mereka Bergembira. Karunia Allah Dan Rahmat-Nya Itu Adalah Lebih Baik Dari Apa Yang Mereka Kumpulkan”.
(Q.S. YUNUS : 58)
Segala puji hanya milik Allah. Rahmat dan sejahtera kepada Rasulullah dan para sahabatnya sekalian.
Yang menjadi tinjauan dan pembahasan pada ayat tersebut diatas adalah : kata-kata “Karunia Allah” dan “Rahmat-Nya” dan juga perintah bergembiralah karena keduanya.
Apa yang dimaksud dengan “Karunia Allah” dan “Rahmat Allah” pada ayat yang tersebut diatas?
Syihabuddin Mahmud bin Abdullah Al-Husaini Al-Alusiy dalam tafsir Beliau Ruhul Ma’aniy Fi Tafsir Al-Quran Wa Sab’a Matsaniy menjelaskan ada 5 penafsiran tentang makna kalimat tersebut, diantaranya adalah: Telah mengeluarkan oleh Abu Syaikh dari Ibnu ‘Abbas RA: bahwa yang dimaksud dengan “Karunia Allah” pada ayat tersebut diatas adalah Ilmu, dan yang dimaksud dengan “Rahmat Allah” adalah Nabi Muhammad SAW. Dan telah mengeluarkan oleh Al-Khathib dan Ibnu ‘Asakir: bahwa yang dimaksud dengan “Karunia Allah” pada ayat tersebut diatas adalah Nabi Muhammad SAW, dan yang dimaksud dengan “Rahmat Allah” adalah Sayyidina ‘Ali.
Abu Hayyan Muhammad bin Yusuf bin ‘Ali bin Yusuf bin Hayyan dalam tafsir beliau yang bernama Tafsir Al-Bahar Al-Muhith menjelaskan ada 15 penafsiran tentang makna kalimat tersebut, diantaranya adalah: “Telah berkata Ibnu ‘Abbas pada hadits yang diriwayatkan oleh Adh-Dhihak bahwa yang dimaksud dengan “karunia Allah” adalah ilmu, dan yang dimaksud dengan “rahmat Allah” adalah Nabi Muhammad SAW.
Ibnu Jauziy dalam tafsir beliau Zaada Al-Maisir menjelaskan ada 8 penafsiran tentang makna kalimat tersebut, diantaranya adalah : bahwa pendapat yang ketiga bahwa yang dimaksud dengan “karunia Allah” adalah ilmu, dan yang dimaksud dengan “rahmat Allah” adalah Nabi Muhammad SAW atas dasar riwayah Adh-Dhihak dari Ibnu ‘Abbas.
Imam Tusturiy dalam tafsir beliau Tafsir Tustury memastikan hanya satu penafsiran yaitu : bahwa yang dimaksud dengan “karunia Allah adalah Tauhid, dan yang dimaksud dengan “rahmat Allah” adalah Nabi Muhammad SAW.
Al-Qadhi Abu Muhammad dalam tafsir Al-Muharrar Al-Wajiz karya Ibnu ‘Athiyyah Al-Maharibiy berkata : Tiada jalan bagiku untuk menentukan satu penafsiran dari sejumlah penafsiran yang ada kecuali bahwa sesuatu itu bersandar kepada Nabi SAW.
Namun Abu Syaikh dari Ibnu ‘Abbas dalam menentukan bahwa yang dimaksud dengan “Karunia Allah” pada ayat tersebut diatas adalah Ilmu, dan yang dimaksud dengan “Rahmat Allah” adalah Nabi Muhammad SAW beliau berdalil dengan surat Al-Anbiya : 107 yang artinya : Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. Sebagaimana dijelaskan oleh ‘Abdurrahman bin Abubakar Jalaluddin As-Suyuthiy dalam tafsir beliau Ad-durrul Mantsur Fi Takwil Bil Ma’tsur.
Walaupun hadits-hadits dan pendapat-pendapat diatas mungkin bisa dianggap lemah dengan berbagai pandangan, tinjauan, kajian dan alasan, namun ada satu hal yang tidak bisa ditolak oleh umat yang patuh kepada Al-Quran bahwa Nabi Muhammad adalah rahmat, bahkan rahmat bagi semesta alam. Kenapa hal ini tidak bisa ditolak karena ini termaktub jelas dalam Al-Quran surat Al-Anbiya : 107 yang artinya : Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.
Jika kata “Rahmat” yang ada dalam ayat diatas bisa ditafsirkan dengan segala bentuk rahmat sebagaimana yang ada dalam seluruh tafsir maka adakah larangan jika kata “Rahmat” itu ditafsirkan dengan Nabi Muhammad SAW? Bukankah beliau adalah rahmat bagi semesta alam?
Nabi Muhammad SAW adalah Rahmat bagi semesta alam sebagaimana tersebut dalam QS. Al-Anbiya : 107 maka bergembira dengan kehadiran dan kelahiran Beliau adalah diperintahkan oleh Allah SWT dengan firman-Nya “HENDAKLAH DENGAN ITU MEREKA BERGEMBIRA” sebagaimana pada QS. Yunus : 58.
Lalu bagaimana cara bergembira terhadap kehadiran dan kelahiran Nabi Muhammad SAW?
Apabila tidak datang dalil khusus yang menguraikan cara bergembira tersebut maka berpulanglah caranya kepada masing-masing individu, waktu dan tempat. Boleh saja dengan membaca Al-Quran, mengerjakan shalat sunat, berpuasa, bersedekah, membaca shalawat, santuni anak yatim, beri makan fakir miskin, sambung tali silaturrahmi, berzikir, bercerita tentang sejarah yang berhubungan dengan agama dan pribadi Nabi dan segala macam kebaikan lainnya yang masih terpayungi oleh payung hukum dan dalil agama.
Dalam Kitab I’anah ath-Thalibin Karya ‘Allamah Abi Bakar bin Sayyid Muhammad Syatha ad-Dimyaathiy yang dimasyhurkan dengan nama Sayyid Bakri. Jilid III, Hal. 413-415 (Kitab Maktabah Syamilah), disebutkan: “Didapatkan dalam Fatawi al-Hafidl as-Suyuthiy pada BAB WALIMAH, ditanyakan kepada Beliau daripada amal Maulid Nabi pada bulan Rabi’ul Awal, apa hukumnya dalam tinjauan syara’?. Apakah perbuatan itu dipuji atau dicela?. Apakah diberikan pahala kepada orang yang melakukannya atau tidak?. Beliau berkata: “Jawaban yang ada pada saya adalah bahwa sungguh dasar amal perayaan Maulid adalah berhimpunnya manusia, membaca apa yang mudah dari Al-Quran, membaca riwayat hadits yang datang pada permulaan pekerjaan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, membaca riwayat tentang tanda-tanda yang terjadi pada kelahiran Beliau, lalu menuju tempat hidangan yang memakan oleh mereka akan makanan, dan tidak lebih dari yang demikian itu, maka itu adalah sebagian dari bid’ah yang bagus (hasanah) karena padanya bagian dari membesarkan derajat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan menampakkan rasa senang dan gembira dengan kelahiran Nabi yang mulia. Ash-Shakhawi berkata: amal maulid Nabi sudah terjadi pada kurun yang ketiga. Ibnu Jauziy berkata: sebagian dari keistimewaan merayakan hari maulid Nabi adalah diberikan oleh Allah keamanan dalam negeri pada tahun tersebut dan digembirakan dengan tercapai cita dan harapan untuk masa yang akan datang. Yang pertama melakukannya (menurut Ibnu Jauziy) adalah Raja Mudhaffar.
Dan kenapa bergembiranya hanya pada bulan-bulan tertentu?
Karena Abu Qatadah Al-Anshari meriwayatkan bahwa kepada Nabi SAW. pernah ditanya mengenai puasa yang beliau lakukan pada hari Senin. Baginda menjawab, “Hari itu adalah hari saya dilahirkan dan hari saya menerima wahyu.”
Berdasarkan kepada hadits tersebut diatas bahwa Nabi SAW menaruh perhatian khusus pada hari kelahiran beliau dan bersyukur kepada Allah SWT dengan berpuasa pada hari itu yang merupakan satu bentuk ibadah. Sebagaimana Nabi SAW. telah memberi perhatian khusus pada hari tersebut dengan berpuasa, maka ibadah dalam bentuk apa saja yang masih sesuai dengan nash agama untuk memberi perhatian khusus atas hari tersebut dapat pula dibenarkan. Meskipun bentuk ibadahnya berbeda, tetapi esensinya tetap sama yaitu bergembira dengan kelahiran baginda. Oleh karena itu, berpuasa, memberi makan fakir miskin, berkumpul untuk melantunkan pujian kepada Nabi saw. atau berkumpul untuk mengingat perilaku dan budi pekerti baiknya, semuanya dapat dipandang sebagai cara menaruh perhatian khusus pada hari tersebut.
Demikian, dan marilah kita kembali kepada satu semboyan yang termaktub dalam Al-Quran “AL-HAQQU AHAQQU AN YUTTABA’ (QS. YUNUS : 35)”. Semoga dapat berguna bagi kita semua, amin ya rabbal ‘alamin.
Rabbi An Yahdiyani Sawa-as- Sabiil (Al-Qashash : 22)

KEUTAMAAN UMAT MUHAMMAD SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM

KEUTAMAAN UMAT MUHAMMAD SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM
  1. DIALOG NABI MUSA DENGAN ALLAH
    Riwayat yang diterima dari Maqatil bin Sulaiman
    1. Nabi Musa ‘Alaihissalam berkata; Ya Tuhanku! Aku dapati pada papan (lawhu) ada Satu Umat Yang Mereka Itu Bisa Memberi Dan Menerima Syaf’at, jadikanlah mereka itu umatku. Firman Allah; Itu Adalah Umat Muhammad.
    2. Nabi Musa ‘Alaihissalam berkata; Ya Tuhanku! Aku dapati pada papan (lawhu) ada Satu Umat Yang Dosa Mereka Dihapuskan Oleh Shalat 5 Waktu, jadikanlah mereka itu umatku. Firman Allah; Itu Adalah Umat Muhammad.
    3. Nabi Musa ‘Alaihissalam berkata; Ya Tuhanku! Aku dapati pada papan (lawhu) ada Satu Umat Yang Membunuh Oleh Mereka Akan Kesesatan Sehingga Mereka Membunuh Pengikut Dajjal, jadikanlah mereka itu umatku. Firman Allah; Itu Adalah Umat Muhammad.
    4. Nabi Musa ‘Alaihissalam berkata; Ya Tuhanku! Aku dapati pada papan (lawhu) ada Satu Umat Yang Mereka Bersuci Dengan Air dan Tanah, jadikanlah mereka itu umatku. Firman Allah; Itu Adalah Umat Muhammad.
    5. Nabi Musa ‘Alaihissalam berkata; Ya Tuhanku! Aku dapati pada papan (lawhu) ada Satu Umat Yang Mengambil Sedekah dan Memakannya, Padahal Adalah Umat Dahulu Mereka Membakarnya Dengan Api, jadikanlah mereka itu umatku. Firman Allah; Itu Adalah Umat Muhammad.
    6. Nabi Musa ‘Alaihissalam berkata; Ya Tuhanku! Aku dapati pada papan (lawhu) ada Satu Umat Yang Apabila Sesorang Dari Mereka Bercita-Cita Untuk Melakukan Satu Kebaikan, Lalu Mereka Tidak Melakukannya Maka Dituliskan Baginya Satu Pahala Kebaikan, Dan Apabila Mereka Melakukannya Maka Ditulis Baginya 10 Bahkan 700 Ganda Pahala Bahkan Lebih Banyak Dari Itu. Bilamana Mereka Bercita-Cita Melakukan Satu Kejahatan Maka Tidak Ditulis Suatu Apapun, Tetapi Bila Kejahatan Itu Dilakukannya Maka Dituliskan Baginya Satu Kesalahan, jadikanlah mereka itu umatku. Firman Allah; Itu Adalah Umat Muhammad.
    7. Nabi Musa ‘Alaihissalam berkata; Ya Tuhanku! Aku dapati pada papan (lawhu) ada Satu Umat Yang Mana Ada 70.000 Dari Mereka Yang Masuk Surga Tanpa Hisab, jadikanlah mereka itu umatku. Firman Allah; Itu Adalah Umat Muhammad.
      Ditambahkan dalam Riwayat Mu’ammar dari Qatadah
    8. Nabi Musa ‘Alaihissalam berkata; Ya Tuhanku! Aku dapati pada papan (lawhu) ada Satu Umat Yaitu Sebaik-baik Umat Yang Menyeru Kepada Yang Ma’ruf dan Mencegah dari Yang Mungkar, jadikanlah mereka itu umatku. Firman Allah; Itu Adalah Umat Muhammad.
    9. Nabi Musa ‘Alaihissalam berkata; Ya Tuhanku! Aku dapati pada papan (lawhu) ada Satu Umat Yang Mereka Adalah Umat Terakhir Tetapi Mereka Yang Pertama dan Utama Pada Hari Kiamat, jadikanlah mereka itu umatku. Firman Allah; Itu Adalah Umat Muhammad.
    10. Nabi Musa ‘Alaihissalam berkata; Ya Tuhanku! Aku dapati pada papan (lawhu) ada Satu Umat Yang Mereka Bersuci Dengan Air dan Tanah, jadikanlah mereka itu umatku. Firman Allah; Itu Adalah Umat Muhammad.
          Sehingga Nabi Musa berkeinginan agar menjadi bahagian dari umat Nabi Muhammad, lalu Allah berfirman; Wahai Musa! Engkau telah Aku pilih diatas segala manusia dengan risalahku dan kalamku, maka ambil saja apa yang telah aku berikan dan jadilah engkau daripada orang yang bersyukur.
  2. SABDA NABI ADAM ‘ALAIHISSALAM
    Bahwa sesungguhnya Allah SWT memberikan kepada umat Muhammad SAW 4 kemulian yang tidak diberikannya kepadaku;
    1. Taubatku diterima mesti di Mekkah, sedangkan umat Muhammad bertaubat dimana saja dan taubatnya diterima.
    2. Aku berpakaian, tetapi tatkala aku berbuat maksiat aku jadi telanjang, sedangkan umat Muhammad melakukan maksiat dalam keadaan telanjang tetapi masih diizinkan berpakaian oleh Allah.
    3. Aku, tatkala melakukan maksiat dipisahkan dari isteriku, sedangkan umat Muhammad melakukan maksiat tetapi tidak dipisahkan dari isterinya.
    4. Aku, melakukan maksiat didalam surga maka aku dikeluarkan, sedangkan umat Muhammad melakukan maksiat diluar surga tetapi dimasukkan kedalam surga.
___________________________________
Sumber: Kitab Tanbihil Ghafilin Karya Syeikh Nasar bin Muhammad bin Ibrahim As-Samarqandiy

DAJJAL & PENGARUHNYA TERHADAP WANITA

Dalam Hadits diterangkan bahwa Dajjal tidaklah kecil pengaruhnya terhadap kaum wanita. Kenyataan menunjukkan bahwa walaupun manusia mempunyai kesanggupan untuk berbuat baik, namun pelaksanaannya harus disertai dengan usaha keras seakan-akan harus mendaki puncak gunung. Tetapi tidak demikianlah halnya perbuatan buruk. Tanpa susah payah sedikitpun, manusia selalu siap dan tak segan-segan melakukan perbuatan yang merusak moral dan perbuatan biadab.
Celakanya pada dewasa ini Eropalah yang membuka pintu segala macam godaan berupa pergaulan bebas yang melebihi batas antara pria dan wanita. Adegan-adegan yang membangkitkan nafsu birahi, baik yang dipentaskan dalam panggung maupun di layar putih, menyebabkan tempat-tempat yang menggiurkan itu banyak dikunjungi orang, terutama para pemuda. Gambargambar cabul, tarian telanjang, pakaian wanita setengah tetanjang, semua kejahatan yang ditimbulkan oleh hidup berfoya-foya ini menyebabkan jiwa manusia cepat menjadi rusak. Rusak badannya, demikian pula rusak moralnya.
Meluncur ke bawah adalah lebih mudah daripada naik ke atas. Kejadian-kejadian tersebut buruk sekali pengaruhnya terhadap karakter bangsa kita sendiri. Perbuatan orang-orang Eropa yang tak pantas itu, makin lama makin dianggap tak menjijikkan lagi oleh bangsa kita. Pelacuran dan segala pendahuluannya tak memuakkan perasaan kita lagi. Perbuatan mesum ini, yang cepat sekali menjalarnya di kalangan kaum pria, kini mulai menjalar di kalangan kaum wanita.
Tepat sekali sabda Nabi SAW sbb: “Orang terakhir yang akan datang kepada Dajjal adalah kaum wanita.”
Memang sifat pemalu kaum wanita dapat lama bertahan menghadapi godaan Dajjal. Akan tetapi sekarang mereka sudah jatuh menjadi korban godaan Dajjal, dan sekalipun di negeri kita belum begitu memuncak seperti di Eropa, namun sekarang banyak wanita Timur yang mengucapkan selamat tinggal kepada kesopanan Islam dan berganti menggunakan kesopanan setengah-telanjang ala barat. Mereka bukan saja mengunjungi tempat-tempat hiburan, melainkan mereka sudah mulai ikut-ikutan berdansa.
Apabila pengaruh Dajjal sudah tak terkendalikan lagi dan kebudayaan Islam sudah diganti dengan kebudayaan Barat, pasti akan tiba saatnya bahwa di negara kita seperti halnya di negara Eropa, pelacuran dan segala pendahuluannya, bukan lagi hal yang memuakkan batin kita. Memang benar bahwa agama Islam tak menyuruh kaum wanitanya supaya menyendiri di kamar, dan memakai selubung seperti wanita di India atau di tanah Arab.
Sebaliknya Islam merigizinkan kaum wanita keluar untuk bekerja, berdagang, mendatangi suatu keperluan, memenuhi tugas sosial, ekonomi dan keperluan lainnya. Wanita dapat bekerja sebagai buruh, sebagai pedagang, dan sebagai prajurit. Akan tetapi dengan segala kebebasan bergerak, Islam tak mengizinkan pergaulan bebas antara pria dan wanita, demikian pula tak mengizinkan memakai pakaian yang tak sopan jika berkumpul bersama kaum pria dalam suatu keperluan. Kaum wanita dilarang mempertontonkan kemolekan tubuhnya yang dapat menggiurkan kaum pria. Cara-cara memperlihatkan kemolekan dan pergaulan-bebas inilah ciri-ciri khas Dajjal dalam pergaulan, yang buruk sekali pengaruhnya terhadap wanita Islam yang bermartabat tinggi.
Hubungan bebas yang tidak sah dan melebihi batas antara pria dan wanita, menyebabkan kejalangan, dan menyebabkan bertambahnya anak-anak yang tidak sah (anak-anak zina), dan ini adalah ciri khas kota-kota besar di Eropa dan Amerika. Dalam ru’yah Nabi Suci melihat hubungan sex yang tidak sah yang membuntuti materialisme: “Awas! Sebagian besar kawan dan pengikut Dajjal adalah kaum Yahudi dan anak-anak yang tidak sah.”
Sejumlah besar anak-anak zina ini dilindungi oleh undang-undang yang mengesahkan anak-anak itu. Misalnya, seorang wanita mengandung karena hubungan yang tidak sah, akan tetapi sebelum bayi lahir, mereka melangsungkan pemikahan, maka bayi itu dianggap sah. Sampai-sampai undang-undang itu begitu lunak, hingga apabila pria dan wanita yang berbuat mesum melangsungkan perkawinan di sembarang waktu, maka anak-anak yang dilahirkan sebelum perkawinan, semuanya dianggap sah.
Akan tetapi kendati undang-undang itu lunak sekali, namun di kota-kota Eropa (dan Amerika), masih terdapat banyak anak-anak yang tidak sah, sekalipun ditinjau dari undang-undang yang lunak ini. Bahkan anak-anak yang lahir dalam keadaan perang, diberi julukan sebagai “anak pahlawan”. Jika orang mau meninjau betapa merajalela pergaulan bebas antara pria dan wanita di Eropa dan Amerika, orang dapat meramalkan bahwa tak lama lagi penduduk daerah ini akan berpaling dari jalan benar dan kembali kepada kehidupan biadab bagaikan binatang, sepanjang mengenai hubungan sex antara pria dan wanita.
Tanda-tanda Dajjal lain lagi yang diuraikan dalam Hadits ialah bahwa wanita akan seperti pria, dan pria akan seperti wanita. Seperempat abad yang lalu, hal ini masih sukar dimengerti. Akan tetapi sekarang ramalan ini terjadi sungguh-sungguh, yakni bahwa wanita memakai cara-cara kaum pria, misalnya memotong rambut, memakai celana dan sebagainya, sedangkan kaum pria memakai cara-cara kaum wanita, misalnya berambut gondrong, memakai bedak, kalung, gelang dan sebagainya. Parobahan dalam hal kelakuan dan kebiasaan ini begitu jauh, hingga kadang-kadang sukar dibedakan antara wanita dan pria.
Sabda Nabi SAW: “Wanita akan nampak seperti pria dan pria akan nampak seperti wanita, ini terjadi sungguh-sungguh.
Salamun ‘Ala Man Ittaba’al Huda

KEUTAMAAN PERAYAAN MAULID

فَصْلٌ فِي بَيَانِ فَضْلِ مَوْلِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قال ابو بكر الصديق رضي الله عنه (مَنْ أَنْفَقَ دِرْهَمًا عَلَى قِرَاءَةِ مَوْلِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ رَفِيْقِيْ فِي الْجَنَّة) وقال عمر رضي الله عنه (مَنْ عَظَّمَ مَوْلِدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَدْ أَحْيَا اْلإِسْلاَمَ) وقال عثمان رضي الله عنه (مَنْ أَنْفَقَ دِرْهَمًا عَلَى قِرَاءَةِ مَوْلِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَأَنَّمَا شَهِدَ غَزْوَةَ بَدْرٍ وَ حُنَيْنٍ) وقال علي رضي الله عنه وكرّم الله وجهه (مَنْ عَظَّمَ مَوْلِدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ سَبَبًا لِقِرَاءِتِهِ لا يَخْرُجُ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ بِاْلإِيْمَانِ وَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ) وقال حسن البصريّ رضي الله عنه (وَدِدْتُ لَوْ كَانَ لِيْ مِثْلُ جَبَلِ أُحُدٍ ذَهَبًا فَأَنْفَقْتُهُ عَلَى قِرَاءَةِ مَوْلِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) وقال جنيد البغداديّ قدّس الله سرّه (مَنْ حَضَرَ مَوْلِدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَظَّمَ قَدْرَهُ فَقَدْ فَازَ بِاْلإِيْمَانِ) وقال معروف الكرخيّ قدّس الله سرّه (مَنْ هَيَّأَ طَعَامًا ِلأَجْلِ قِرَاءَةِ مَوْلِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَمَعَ إِخْوَانًا وَأَوْقَدَ سِرَاجًا وَلَبِسَ جَدِيْدًا وَتَعَطَّرَ تَعْظِيْمًا لِمَوْلِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَشَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ الْفِرْقَةِ اْلأُوْلَى مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَكَانَ فِي أَعْلَى عِلِّيِّيْنَ) وقال وحِيْد عصره وفرِيْد دهره الإمام فخر الدين الرّازيّ (مَا مِنْ شَخْصٍ قَرَأَ مَوْلِدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى مِلْحٍ أَوْ بُرٍّ أَوْ شَيْءٍ آَخَرَ مِنَ الْمَأْكُوْلاَتِ إِلاَّ ظَهَرَتْ فِيْهِ الْبَرَكَةُ وَ فِيْ كُلِّ شَيْءٍ وَصَلَ إِلَيْهِ مِنْ ذَلِكَ الْمَأْكُوْلِ فَإِنَّهُ يَضْطَرِبُ وَلاَ يَسْتَقِرُّ حَتَّى يَغْفِرَ اللهُ لَآَكَلِهِ، وَاِنْ قُرِئَ مَوْلِدُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى مَآءٍ فَمَنْ شَرِبَ مِنْ ذَلِكَ الْمَآءِ دَخَلَ قَلْبَهُ أَلْفُ نُوْرٍ وَرَحْمَةٍ وَخَرَجَ مِنْهُ أَلْفُ غِلٍّ وَغِلَّةٍ وَلاَ يَمُوْتُ ذَلِكَ الْقَلْبُ يَوْمَ تَمُوْتُ الْقُلُوْبُ، وَمَنْ قَرَأَ مَوْلِدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى دَرَاهِمَ مَسْكُوْكَةٍ فِضَّةٍ كَانَتْ أَوْ ذَهَبًا وَخَلَطَ تِلْكَ الدَّرَاهِمَ بِغَيْرِهَا وَقَعَتْ فِيْهَا الْبَرَكَةُ وَلاَ يَفْتَقِرُ صَاحِبُهَا وَ لاَ تَفْرُغُ يَدُهُ بِبَرْكَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) وقال الشافعي رحمه الله (مَنْ جَمَعَ لِمَوْلِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِخْوَانًا وَهَيَّأَ طَعَامًا وَأَخْلَى مَكَانًا وَعَمِلَ إِحْسَانًا وَصَارَ سَبَبًا لِقِرَاءِتِهِ بَعَثَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ الصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَيَكُوْنُ فِيْ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ) وقال السِّرِّيُّ السَّقَطِيُّ قدّس الله سرّه (مَنْ قَصَدَ مَوْضِعًا يُقْرَأُ فَيْهِ مَوْلِدُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَدْ قَصَدَ رَوْضَةَ مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ، لِأَنَّهُ مَا قَصَدَ ذَلِكَ الْمَوْضِعَ إِلاَّ لِمَحَّبَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (مَنْ أَحَبَّنِيْ كَانَ مَعِيْ فِي الْجَنَّةِ) وقال سلطان العارفين الإمام جلال الدين السُّيُوطي قدّس الله سرّه ونوَّر ضريحه، في كتابه المسمى بالوَسَائِلْ فِي شَرْحِ الشَّمَائِلْ (مَا مِنْ بَيْتٍ أَوْ مَسْجِدٍ أَوْ مَحَلَّةٍ قُرِئَ فِيْهِ مَوْلِدُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا حَفَّتِ الْمَلاَئِكَةُ ذَلِكَ الْبَيْتَ أَوِ الْمَسِجْدَ أَوِ الْمَحَلَّةَ، وَصَلَّتِ الْمَلاَئِكَةُ عَلَى أَهْلِ ذَلِكَ الْمَكَانِ، وَعَمَّهُمُ اللهُ تَعَالَى بِالرَّحْمَةِ وَالرِّضْوَانِ، وَأَمَّا الْمُطَوَّقُوْنَ بِالنُّوْرِ يَعْنِيْ جِبْرَائِيْلَ وَمِيْكَائِيْلَ وَإِسْرَافِيْلَ وَعِزْرَائِيْلَ عَلَيْهِمُ السَّلاَمُ فَإِنَّهُمْ يُصَلُّوْنَ عَلَى مَنْ كَانَ سَبَبًا لِقِرَاءَةِ مَوْلِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) وقال أيضا: (مَا مِنْ مُسِلِمٍ قَرَأَ فِي بَيْتِهِ مَوْلِدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلاَّ رَفَعَ اللهُ سُبْحَانَهُ وتعالى الْقَحْطَ وَالْوَبَاءَ وَالْحَرْقَ وَالْغَرْقَ وَاْلآفَاتِ وَالْبَلِيَّاتِ وَالْبَغْضَ وَالْحَسَدَ وَعَيْنَ السُّوْءِ وَاللُّصُوْصَ عَنْ أَهْلِ ذَلِكَ الْبَيْتِ، فَإِذَا مَاتَ هَوَّنَ اللهُ عَلَيْهِ جَوَابَ مُنْكَرٍ وَنَكِيْرٍ، وَيَكُوْنُ فَي مَقْعَد صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيْكٍ مُقْتَدِرٍ، فَمَنْ أَرَادَ تَعْظِيْمَ مَوْلِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَكْفِيْهِ هَذَا الْقَدْرُ، وَمَنْ لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُ تَعْظِيْمُ مَوْلِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ مَلَأْتَ لَهُ الدُّنْيَا فِي مَدْحِهِ لَمْ يُحَرَّكْ قَلْبُهُ فِي الْمَحَبَّةِ لَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ)
جَعَلَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِمَّنْ يُعَظِّمُهُ وَيَعْرِفُ قَدْرَهُ وَمِنْ أَخَصِّ خَآصِّ مُحِبِّيْهِ وَأَتْبَاعِهِ آمِيْنَ يَارَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ
(نقل من الكتاب : النعمة الكبر على العالم في مولد سيد ولد آدم _ للإمام إبن حجر الهيتمي الشافعي)
PASAL: KEUTAMAAN PERAYAAN MAULID NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM
Sayyidina Abubakar Shiddiq berkata : (Barangsiapa yang berinfaq satu dirham untuk membaca (kisah) Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam niscaya orang tersebut kawan karibku didalam Surga)
Sayyidina ‘Umar bin Khaththab berkata : (Barangsiapa yang membesarkan (mengagungkan) Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam maka sungguh orang tersebut telah menghidupkan agama Islam)
Sayyidina ‘Utsman bin ‘Affan : »Barangsiapa yang berinfaq satu dirham untuk membaca (kisah) Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam maka seakan-akan orang tersebut telah syahid pada perang Badar dan perang Hunain«
Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib berkata : »Barangsiapa yang membesarkan (mengagungkan) Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan orang tersebut menjadi penyebab terhadap bacaan kisah Maulid niscaya orang tersebut tidak keluar dari dunia ini kecuali bersama iman dan masuk surga dengan tiada hisab«
Imam Hasan Bashri: »Aku berkeinginan jika aku memiliki emas sebesar gunung Uhud maka akan aku infaqkan untuk membaca kisah Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam «
Syaikh Junaidi Al-Baghdadi berkata : »Barangsiapa yang hadir pada acara Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan membesarkan (mengagungkan) kemuliaannya maka sungguh kemenanganlah ia dengan iman«
Syaikh Ma’ruf Al-Kurkhiy berkata : »Barangsiapa yang mempersiapkan makanan untuk pembacaan Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, mengumpulkan saudara-saudaranya, menyalakan lampu, memakai pakaian yang baru dan wangi-wangian karena membesarkan (mengagungkan) Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam niscaya Allah mengumpulkan orang tersebut pada hari kiamat bersama golongan yang pertama dari para Nabi-Nabi, dan orang tersebut berada pada setinggi-tinggi tempat yang tinggi «
Imam Fakhruddin Ar-Raziy berkata : »Tiada seseorang yang membacakan Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam atas yang asin atau gandum atau sesuatu yang lain dari yang bisa dimakan kecuali nyata padanya keberkatan. Dan pada segala sesuatu yang sampai makanan tersebut kepadanya maka sesungguhnya makanan tersebut bergoncang dan tiada tetap sehingga Allah mengampuni dosa orang-orang yang makan makanan tersebut. Dan jika dibacakan Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam atas air maka siapa yang minum air tersebut niscaya telah masuk dalam hatinya seribu cahaya dan rahmat Allah, keluar daripadanya seribu dendam dan dengki. Dan tiada mati hatinya pada hari yang akan mati semua hati. Dan barangsiapa yang membaca Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam atas dirham yang ditempa/cetak perak ataupun emas dan dicampurkan dirham tersebut dengan yang lain niscaya jatuh pula berkat pada yang lainnya, dan pemiliknya tiada faqir dan tiada bertangan hampa dengan berkat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam «
Imam Syafi’i berkata : »Barangsiapa yang mengumpulkan saudara-saudaranya untuk Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, dan mempersiapkan makanan, menghiasi tempat, melakukan yang baik, dan jadilah ia sebagai penyebab pembacaan Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam niscaya Allah membangkitkannya pada hari kiamat bersama orang-orang Shiddiq, orang Syahid dam orang Shalih. Dan adalah orang tersebut dalam surga yang penuh nikmat «
Syaikh As-Sirriy Saqathiy berkata : »Barangsiapa yang menuju suatu tempat yang padanya dibacakan Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam maka sungguh ia menuju satu kebun dari kebun-kebun surga, karena sesungguhnya tiada seseorang yang menuju tempat tersebut kecuali karena kecintaannya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Dan sungguh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : Barangsiapa yang mencintaiku adalah ia bersamaku didalam surga«
Sulthan ‘Arifin Imam Jalaluddin ‘Abdurrahman As-Suyuthi dalam kitab Beliau yang diberi nama Al-Wasaail Fi Syarhi Asy-Syamaail berkata : »Tiada dari suatu rumah atau mesjid atau perkemahan yang dibacakan padanya Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam kecuali mengelilingi rumah, mesjid dan kemah tersebut oleh malaikat, dan malaikat meminta ampunan dosa terhadap penghuni tempat tersebut, dan Allah meliputi mereka dengan rahmat dan keredhaan-Nya. Dan adapun Yang Dikelilingi Dengan Cahaya yakni Jibril, Mikail, Israfil dan ‘Izrail ‘alaihimussalam meminta ampunan dosa terhadap orang-orang yang menjadi penyebab bagi pembacaan Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam«. Dan Beliau juga berkata : »Tiada dari seorang Islam yang dibacakan pada rumahnya Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengangkat kemarau, wabak, kebakaran, karam, penyakit, bala, murka, dengki, mata yang jahat dan pencuri dari ahli rumah tersebut. Jika orang tersebut meninggal dunia niscaya Allah memudahkan baginya menjawab pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir, dan adalah tempat duduknya pada tempat yang benar disisi Tuhan yang maha memiliki lagi kuasa. Barangsiapa yang berkehendak membesarkan Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam niscaya cukuplah baginya ini ketentuan. Dan barangsiapa yang tiada disisinya membesarkan Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam walaupun dipenuhkan pujian baginya didunia ini niscaya tiada bergerak hatinya untuk mencintai Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam«
Semoga Allah menjadikan kami dan kalian semua bahagian dari orang-orang membesarkan (mengagungkan) Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan orang yang mengenal keagungannya. Semoga Allah menjadikan kami dan kalian semua bahagian dari orang-orang yang khusus dari orang yang khusus yang mencintai Beliau dan para pengikutnya. Terimalah Wahai Pemilik Semesta Alam.
Dan Rahmat Allah kepada Sayyidina Muhammad dan keluarganya serta shahabatnya sekalian hingga hari kiamat.
(Dinukilkan dari kitab : Nikmat Yang Besar Atas Alam Pada Kelahiran Penghulu Keturunan Adam – karangan Imam Ibnu Hajar Al-Haitami Asy-Syafi’i)
Penterjemah : Tgk. Kasman ‘Arifa

AMALAN UNTUK MERAIH AMAN DARI RASA DI CABUTNYA IMAN

Sumber : Kitab I’anah Ath-Thalibin
Telah menyebutkan oleh Syaikh ‘Abdul Wahhab Asy-Sya’rani Asy-Syafi’i y  dalam kitabnya yang dinamakan dengan “Ad-Dilalah ‘Ala Allah U” dari pada Sayyidina Abi ‘Abbas al-Khidhir dari pada Nabi Muhammad ‘Alaihi Wa ‘Ala Saairil Ambiya’ Wal Mursalin Salam, “Bahwa sungguh Khidhir berkata: Aku telah bertanya kepada 1.024 orang Nabi dari pada mengamalkan sesuatu yang menjadikan seorang hamba aman dari dicabutkan iman, maka tidak seorang pun dari Nabi tersebut menjawabnya, sehingga aku berhimpun bersama dengan Nabi Muhammad e, maka aku bertanya tentang amalan tersebut kepada Beliau? Maka Beliau berkata ; sehingga aku bertanya kepada malaikat Jibril. Lalu Nabi Muhammad bertanya kepada malaikat Jibril, maka Jibril menjawab : sehingga aku bertanya kepada Allah U. Lalu Jibril bertanya kepada Allah U, maka firman Allah U :
“Barang Siapa Yang Membiasakan Diri Membaca;
اَللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ، لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ، لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ، مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ، يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ، وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَآءَ، وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، وَلَا يَئُوْدُهُ حِفْظُهُمَا، وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ (البقرة: 255)
dan dilanjutkan membaca;
آَمَنَ الرَّسُوْلُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُوْنَ، كُلٌّ آَمَنَ بِاللهِ وَمَلَآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ، لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ، وَقَالُوْا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيْرُ (285) لَا يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا، لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ، رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا، وَاغْفِرْ لَنَا، وَارْحَمْنَا، أَنْتَ مَوْلَانَا، فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ (البقرة : 285-286)
dan dilanjutkan membaca;
شَهِدَ اللهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَآئِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ، لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ (18) إِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللهِ الْإِسْلَامُ، (آل عمران : 18-19)
dan dilanjutkan membaca;
قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ، تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَآءُ، وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَآءُ، وَتُعِزُّ مَنْ تَشَآءُ، وَتُذِلُّ مَنْ تَشَآءُ، بِيَدِكَ الْخَيْرُ، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ (26) تُوْلِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ، وَتُوْلِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ، وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ، وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ، وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَآءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ، (آل عمران : 26 – 27)
dan dilanjutkan membaca;
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ (1) اللهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4) (الإخلاص : 1-4)
dan dilanjutkan membaca;
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ(1) مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ(2) وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ(3) وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ(4) وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ(5) (الفلق : 1-5)
dan dilanjutkan membaca;
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ(1) مَلِكِ النَّاسِ(2) إِلَهِ النَّاسِ(3) مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ(4) الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِي صُدُوْرِ النَّاسِ(5) مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ(6) (الناس : 1-6)
dan dilanjutkan membaca;
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ(1) الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ(2) الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ(3) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ(4) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ(5) اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ(6) صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ، غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّآلِّيْنَ(7) (الفاتحة : 1-7)
Niscaya Aman Ia Dari Dicabutnya Iman.

Wednesday, 26 February 2014

FAEDAH KALIMAH لااله الا الله محمد رسول الله

 FAEDAH KALIMAH لااله الا الله محمد رسول الله
Jumlah huruf kalimah syahadat terdiri dari dua puluh empat huruf {24} huruf, dan sekalian huruf nya itu hurfiyah yakni dibuatkan dengan huruf yang tiada bertitik yang mengisyarahkan kepada barangsiapa mengata dengan dua kalimah syahadat itu dengan ikhlas hatinya, dan barang siapa mengata dengan dua kalimah syahadat bahwasanya suci hatinya dari pada tiap-tiap barang yang lain dari pada Allah.
Dan lagi dua kalimah syahat dua puluh empat huruf [24] huruf yang faedah nya yaitu malam dan siang itu 24 sa`ah maka tiap-tiap satu huruf itu menutupi ia akan dausa tiap-tiap satu sa`ah.
Dan lagi dua kalimah syahadat itu 7 kalimat, yang faedah nya ialah karena maksiat itu tiada sunyi ia melainkan datang dari anggota yang 7.
1. Dari pada tangan kita
2. Dari pada mata kita
3. Dari pada kaki kita
4. Dari pada lidah kita
5. Dari pada perut kita
6. Dari pada telinga kita
7. Dari pada kemaluan kita
Maka dari tiap-tiap satu dari pada yang tujuh kalimah itu menutupi ia akan maksiat yang satu anggota yang tujuh itu.
Dan di isyaratkan pula 7 kalimah itu kepada 7 pintu neraka jahannam dan terkunci 7 ketujuhnya dan tertutup sekalian pintu neraka yang tujuh itu bagi orang yang mengata dua kalimah syahadat tersebut. Dan barangsiapa mengata dua kalimah syahadat daripada yang tujuh itu maka ditutup oleh Allah ta`ala satu pintu neraka jahannam dengan karunia Allah ta`ala, inilah perkataan ulama.

 Penulis: raja atjeh

Tuesday, 25 February 2014

TAUBAT


Risalah Al Qusyairi 
Abd al-Karim ibn Hawazinal-Qusyairi

Diriwayatkan dari Anas bin Malik, bahawa Rasulullah saw mengatakan - 'Orang yang bertaubat dari dosa adalah seperti orang yang tidak berdoa, dan jika Allah mencintai seorang hamba, niscaya dosa tidak melekat pada dirinya.’
Ketika beliau ditanya, “Wahai Rasulullah, apa tandanya taubat?”, Rasulullah menjawab, “Menyesali kesalahan.”
Anas bin Malik meriwayatkan bahawa Rasulullah saw mengatakan, “Tiada sesuatu yang lebih dicintai oleh Allah selain pemuda yang bertaubat.”
Makna taubat dalam bahasa Arab adalah kembali – ia merupakan tingkat pertama di antara maqam yang dialami oleh sufi, dan tahap pertama di antara tahap-tahap yang dicapai oleh salik (si penempuh jalan Allah).
Sebuah hadis mengatakan, “Pengingat Tuhan di dalam hati setiap insan adalah Muslim.”
Abu Hafs Al-Haddad mengatakan, “Saya meninggalkan suatu perbuatan tercela, lalu kembali kepada Nya. Kemudian perbuatan itu meninggalkan saya, dan sesudah itu saya tidak kembali kepada Nya.”
Syeikh Abu Ali Al-Daqqaq mengatakan, “Salah seorang murid bertaubat, kemudian menerima ujian. Dia bertanya-tanya di dalam hati, “Jika saya bertaubat, bagaimanakah keadaan saya nanti?”

Syeikh Abu Ali Al-Daqqaq pula mengatakan: Taubat dibahagikan menjadi 3 tahap: tahap pertama adalah tawbah (taubat), tahap kedua adalah inabah (berpaling kepada Tuhan), dan tahap akhir adalah awbah (kembali).

Al-Junaid menyatakan, “Taubat mempunyai 3 makna. Pertama menyesali kesalahan; kedua tetap hati untuk tidak mengulang kembali kepada apa yang telah dilarang oleh Allah SWT, dan ketiga adalah menyelesaikan keluhan orang terhadap dirinya.”
Sahl Ibn Abdullah menyatakan, “Taubat adalah menghentikan sikap suka menunda-nunda.”
Al-Harith menegaskan, “Saya tidak pernah mengatakan , “Wahai Tuhanku, aku memohon ampunan-Mu.’ Saya mengatakan, ‘Kurniakan kepadaku, wahai Tuhan, kerinduan untuk bertaubat.’

Al-Junaid mengunjungi As-Sari pada suatu hari, dan mendapatinya sedang kebingungan. Dia bertanya, “Apa yang terjadi atas dirimu?”
As-Sari menjawab, “Aku bertemu dengan seorang pemuda, dan dia bertanya tentang taubat kepadaku. Ku beritahu dia – ‘Taubat adalah engkau tidak melupakan dosa-dosamu.’ Lantas dia menegurku dengan mengatakan, ‘Taubat adalah bahwa engkau benar-benar melupakan dosa-dosamu.’ Al-Junaid mengatakan bahwa yang dikatakan oleh pemuda itulah yang benar. As-Sari bertanya kepadanya mengapa dia berpendapat seperti itu. Al-Junaid menjawab, ‘Karana apabila aku kafir dan kemudian Dia membimbingku menjadi Muslim, maka ingatan akan kekafiran dalam taubat merupakan kekafiran.’ As-Sari lalu terdiam.
Al-Junaid merujuk taubatnya orang-orang yang telah mencapai kebenaran, yang tidak ingat akan dosa-dosa mereka lagi karana keagungan Allah SWT telah menguasai hati mereka, dan dzikr (mengingat Dia) yang terus mereka lakukan.

Menurut Ruwaym, : Ia adalah taubat dari taubat.
Dzun Nun Al-Mishri memberi penjelasan, “Taubat dari kalangan orang awam adalah taubat dari dosa, dan taubat kaum terpilih adalah taubat dari kealpaan.”

Abul Hussain An-Nuri mengatakan, “Taubat adalah bahawa engkau berpaling dari segala sesuatu selain Allah SWT.”
Yahya bin Muaz berdoa, “Wahai Tuhanku, aku tidak mengatakan bahwa aku telah bertaubat. Aku tidak kembali kepada-Mu dikerenakan sesuatu yang menurutku adalah kecenderunganku, aku tidak bersumpah bahwa aku tidak akan berbuat dosa lagi, karana aku mengetahui kelemahanku sendiri. Aku tidak mengatakan bahwa aku kembali kepada-Mu kirana bisa jadi aku mati sebelum kembali dengan sunguh-sungguh.”

Dzun Nun mengatakan, “Permohonan keampunan diajukan dengan tidak disertai kehati-hatian adalah taubatnya para pendusta.”

Ketika Ibn Yazdanyar ditanya tentang prinsip-prinsip yang menjadi asas perjalanan seorang hamba menuju Tuhan, dia menjawab, “Prinsip-prinsip yang engkau maksudkan ialah bahwa dia tidak kembali kepada sesuatu yang telah dia tinggalkan, tidak meminta segala sesuatu selain Yang Esa yang kepada Nya dia menuju, dan menjaga lubuk hatinya dari menginginkan sesuatu yang darinya dia telah menjauhkan diri.”
“Taubat ialah saat di mana engkau mengingat dosa dan tidak menemukan kemanisan di dalamnya.”, kata Al-Bunsyanji.

“Perasaan taubat adalah bahwa bumi ini terlalu sempit bagimu meskipun ia luas sehingga engkau tidak menjumpai tempat untuk beristirahat. Lalu engkau merasakan jiwamu terbatas, kerana Allah SWT telah mengatakan dia dalam Al Quran:
“Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang." (Taubah, 9:118)

Ibn Atha’ mengatakan “Terdapat dua jenis taubat: inabah (kembali) dan istijabah (menjawab atau memenuhi) Dalam inabah sang hamba bertaubat kerana takut akan hukuman; dalam istijabah dia bertaubat kerana malu akan kedermawan-Nya.

Abu Hafs mengatakan, “Seorang hamba tidak bersangkut paut dengan taubat. Taubat datang kepadanya, bukan dari dirinya.”
Abu Hafs ditanya, “Mengapa orang-orang bertaubat membenci dunia?” Dia menjawab, “Karana ia merupakan tempat dosa-dosa dikejar.” Dan dikatakan kepadanya, “Ia juga tempat tinggal yang dijunjung tinggi oleh Tuhan dengan taubat. Dia mengatakan, “Pendosa mendapatkan keyakinan dari dosanya, tetapi mendapatkan bahaya dari penerimaan atas taubatnya.”

Diriwayatkan bahawa Allah SWT berfirman kepada Adam, “Wahai Adam, Aku telah mewariskan anak cucumu beban dan penderitaan Aku juga telah mewariskan kepada mereka taubat. Aku menjawab seorang di antara mereka, yang berdoa dengan sunguh-sungguh kepada Ku sebagaimana kamu telah berdoa kepada-Ku, sama sebagaimana Aku menjawabmu. Wahai Adam, Aku akan membangkitkan orang-orang yang bertaubat dari kubur-kubur mereka dalam keadaan gembira; doa mereka akan Ku-jawab.”
Diriwayatkan seseorang telah bertanya kepada Rabiah, "Saya telah sering berbuat dosa dan menjadi semakin tidak taat. Tetapi, apabila saya bertaubat, apakah Dia akan mengampuninya?" Rabiah menjawab: 'Tidak - tetapi apabila Dia mengampunimu, maka engkau akan bertaubat.'

Adalah perbuatan Nabi Muhammad saw bertaubat terus-menerus. Beliau mengatakan, “Hatiku suram, oleh kerana itu aku memohon ampunan Allah 70 kali dalam sehari.”
Yahya bin Muaz menyatakan, “Satu pelanggaran saja sesudah taubat lebih patut ditakuti berbanding 70 pelanggaran sebelum taubat.
وَقُل لِّلۡمُؤۡمِنَـٰتِ يَغۡضُضۡنَ مِنۡ أَبۡصَـٰرِهِنَّ وَيَحۡفَظۡنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَا‌ۖ وَلۡيَضۡرِبۡنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِہِنَّ‌ۖ وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوۡ ءَابَآٮِٕهِنَّ أَوۡ ءَابَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوۡ أَبۡنَآٮِٕهِنَّ أَوۡ أَبۡنَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوۡ إِخۡوَٲنِهِنَّ أَوۡ بَنِىٓ إِخۡوَٲنِهِنَّ أَوۡ بَنِىٓ أَخَوَٲتِهِنَّ أَوۡ نِسَآٮِٕهِنَّ أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَـٰنُهُنَّ أَوِ ٱلتَّـٰبِعِينَ غَيۡرِ أُوْلِى ٱلۡإِرۡبَةِ مِنَ ٱلرِّجَالِ أَوِ ٱلطِّفۡلِ ٱلَّذِينَ لَمۡ يَظۡهَرُواْ عَلَىٰ عَوۡرَٲتِ ٱلنِّسَآءِ‌ۖ وَلَا يَضۡرِبۡنَ بِأَرۡجُلِهِنَّ لِيُعۡلَمَ مَا يُخۡفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ‌ۚ وَتُوبُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ 

"Katakanlah kepada orang-orang laki-laki yang beriman "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, apa yang mereka perbuat." "Katakanlah kepada wanita yang beriman :"Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka meukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung." (An-Nur:31)

وَيَسۡـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلۡمَحِيضِ‌ۖ قُلۡ هُوَ أَذً۬ى فَٱعۡتَزِلُواْ ٱلنِّسَآءَ فِى ٱلۡمَحِيضِ‌ۖ وَلَا تَقۡرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطۡهُرۡنَ‌ۖ فَإِذَا تَطَهَّرۡنَ فَأۡتُوهُنَّ مِنۡ حَيۡثُ أَمَرَكُمُ ٱللَّهُ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٲبِينَ وَيُحِبُّ ٱلۡمُتَطَهِّرِينَ

Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran”. oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri[137] dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci[138]. apabila mereka Telah suci, Maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (Al-Baqarah:222)
إِنَّمَا يَسۡتَجِيبُ ٱلَّذِينَ يَسۡمَعُونَ‌ۘ وَٱلۡمَوۡتَىٰ يَبۡعَثُہُمُ ٱللَّهُ ثُمَّ إِلَيۡهِ يُرۡجَعُونَ 

Hanya orang-orang yang mendengar sajalah yang mematuhi (seruan Allah), dan orang-orang yang mati (hatinya), akan dibangkitkan oleh Allah, kemudian kepada-Nya-lah mereka dikembalikan. (Al-An'am:36)

PERAN PEMUDA DALAM MASYARAKAT



Soekarno mengatakan: “Berikan aku sepuluh pemuda, maka akan aku ubah dunia.”
Siapakah pemuda? Dalam Al-Qur’an, pemuda disebut dengan fatan. Misalnya sebutan fatan untuk Nabi Ibrahim muda, yang ketika itu sedang dicari oleh Raja Namrud karena dituduh menghancurkan patung-patung berhala. Fatan yuqaalu lahu Ibrahim. Juga sebutan fityatun untuk para pemuda Ashabul Kahfi. Innahum fityatun amanuu birabbihim wa zidnaahum hudaa.
ImageSedangkan dalam Hadits, pemuda disebut sebagai syaab. Misalnya dalam hadits “Lima Perkara Sebelum Lima Perkara Lainnya”: syabaabaka qabla haramika (masa mudamu sebelum masa tuamu). Juga dalam hadits “Tujuh Golongan Yang Mendapat Naungan Allah”: syaab nasya-a fii ‘ibadatillah (seorang pemuda yang tumbuh besar dalam ibadah dan taat kepada Allah).
Dari sisi usia, pemuda terbagi ke dalam dua fase yaitu fase puber/remaja berusia antara 10 sampai 21 tahun, dan fase dewasa awal berusia antara 21 sampai 35 tahun. Sebagian berpendapat bahwa siapapun yang berusia dibawah 40 tahun semenjak ia menjadi baligh bisa disebut sebagai pemuda. Barangkali patokannya adalah usia kerasulan Muhammad saw, yaitu 40 tahun. Adapun dari sisi karakter, pemuda adalah sebagaimana yang diuraikan oleh Imam Hasan Al-Banna: “Sesungguhnya sebuah pemikiran itu akan berhasil diwujudkan manakala kuat rasa keyakinan kepadanya, ikhlas dalam berjuang di jalannya, semangat dalam merealisasikannya, dan kesiapan untuk beramal serta berkorban dalam mewujudkannya. Keempat rukun ini, yakni iman, ikhlas, semangat, dan amal (serta pengorbanan) merupakan karakter yang melekat pada pemuda. Karena sesungguhnya dasar keimanan itu adalah nurani yang menyala, dasar keikhlasan adalah hati yang bertakwa, dasar semangat adalah perasaan yang menggelora, dan dasar amal (dan pengorbanan) adalah kemauan yang kuat. Hal itu semua tidak terdapat kecuali pada diri pemuda.”
Mengapa pemuda? Alasan pertama, karena pemuda adalah generasi penerus, yaitu generasi yang meneruskan generasi sebelumnya yang baik. Allah SWT berfirman, “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun pahala amal mereka.” (QS. Ath-Thur : 21)
Alasan kedua, karena pemuda adalah generasi pengganti, yakni menjadi pengganti generasi sebelumnya yang buruk dan tidak taat kepada Allah. Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintainya.” (QS. Al-Maidah : 54)
Dan alasan ketiga, karena pemuda adalah ruh baru, pengubah dan pembaharu, sebagaimana sososk seorang Nabi Ibrahim muda yang dikisahkan dalam Al-Qur’an: “Ingatlah ketika ia (Ibrahim) berkata kepada bapaknya : Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong sedikitpun.” (QS. Maryam : 42)
Kelebihan pemuda:
Pemuda memiliki empat kelebihan. Pertama, kekuatan spiritual: iman, takwa, dan ikhlas. Kedua, kekuatan intelektual: ingatan dan analisa yang tajam. Ketiga, kekuatan emosional: menggelora dan meledak-ledak, semangat dan kemauan yang kuat. Dan keempat, kekuatan fisik: tubuh masih segar dan sehat, otot-otot masih kuat.
Sosok Pemuda dalam Sejarah Kemanusiaan
Di masa terdahulu, ada sosok-sosok seperti Nabi Ibrahim muda, yang disebutkan oleh Al-Qur’an sebagai “fatan yuqalu lahu ibrahim”. Ada juga para pemuda Ashhabul Kahfi, yang disebutkan oleh Al-Qur’an sebagai “innahum fityatun amanu birabbihim wa zidnahum huda”.
Demikian pula di masa Rasulullah saw, kita mendapati bahwa sebagian besar yang dibina oleh Rasulullah saw di rumah Arqaam bin Abil Arqam adalah para pemuda. Berikut ini nama-nama mereka:
  1. Ali bin Ali Thalib, paling muda, 8 tahun
  2. Az Zubair bin Al ‘Awwam, 8 tahun
  3. Thalhah bin Ubaidillah, 11 tahun
  4. Al Arqam bin Abil Arqaam, 12 tahun
  5. Abdullah bin Mas’ud, 14 tahun
  6. Sa’ad bin Abi Waqqaas, 17 tahun
  7. Su’ud bin Rabi’ah, 17 tahun
  8. Abdullah bin Mazh’un, 17 tahun
  9. Ja’far bin Abi Thalib, 18 tahun
  10. Qudaamah bin Mazh’un, 19 tahun
  11. Sa’id bin Zaid, di bawah 20 tahun
  12. Suhaib Ar Rumi, di bawah 20 tahun
  13. Assa’ib bin Mazh’un, sekitar 20 tahun
  14. Zaid bin Haritsah, sekitar 20 tahun
  15. ‘Usman bin ‘Affan, sekitar 20 tahun
  16. Tulaib bin ‘Umair, sekitar 20 tahun
  17. Khabab bin Al Art, juga sekitar 20 tahun
  18. ‘Aamir bin Fahirah, 23 tahun
  19. Mush’ab bin ‘Umair, 24 tahun
  20. Al Miqdad bin Al Aswad, 24 tahun
  21. Abdullah bin Al Jahsy, 25 tahun
  22. Umar bin Al Khaththab, 26 tahun
  23. Abu Ubaidah Ibnul Jarrah, 27 tahun
  24. ‘Utbah bin Ghazwaan, juga 27 tahun
  25. Abu Hudzaifah bin ‘Utbah, sekitar 30 tahun
  26. Bilal bin Rabah, sekitar 30 tahun
  27. ‘Ayyasy bin Rabi’ah, sekitar 30 tahun
  28. ‘Amir bin Rabi’ah, sekitar 30 tahun
  29. Nu’aim bin Abdillah, hampir 30 tahun
  30. ‘Usman bin Mazh’un, sekitar 30 tahun
  31. Abu Salamah, Abdullah bin ‘Abdil Asad Al Makhzumi, sekitar 30 tahun
  32. Abdurrahman bin ‘Auf, 30 tahun
  33. Ammar bin Yasir, antara 30-40 tahun
  34. Abu Bakar Ash Shiddiq, 37 tahun
Sepeninggal Rasulullah saw, kita memiliki sosok seperti Umar bin Abdul Aziz, yang menjadi khalifah sebelum berusia 35 tahun. Karena keadilan dan kebijaksanaannya dalam memimpin, sampai-sampai ia dijuluki sebagai khalifah rasyidah yang ke-5. Kita juga mengenal Muhammad Al-Fatih, yang dalam usia belia memimpin penaklukan Konstantinopel
Adapun di masa kontemporer, kita mengenal sosok seperti Hasan Al-Banna, seorang pemuda yang memelopori pergerakan yang paling berpengaruh di dunia. Peran pemuda juga bisa kita lihat dalam Gerakan mahasiswa di Mesir (1946, membebaskan diri dari hegemoni Inggris, Maidan At-Tahrir), di Yunani (National Union of Greek Students meruntuhkan rezim Papandreou), dan di China (1989, Tragedi Tiananmen).
Di Indonesia, ada Soekarno dan tokoh-tokoh pergerakan pemuda di Indonesia pada zaman kemerdekaan (SDI, Budi Utomo, Perhimpunan Indonesia (Hatta dkk), Sumpah Pemuda, Proklamasi Kemerdekaan). Peran pemuda berikutnya bisa kita lihat dalam gerakan mahasiswa di Indonesia tahun 1965 (Tritura), 1974 (Malari), 1978 (Anti NKK/BKK), dan 1998 (meruntuhkan rezim Suharto).
Demikian pula gerakan perubahan di Timur Tengah tahun 2011 di Tunisia dan Mesir juga dipelopori oleh para pemuda.
Profil pemuda agen perubahan masyarakat – pemuda pelopor, pemuda pemimpin:
Pertama, bertaqwa. Kedua, mandiri: tidak tergantung pada orang lain (berdiri diatas kaki sendiri) serta bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukan. Kemandirian disini meliputi: kemandirian emosi (mampu mengendalikan emosi), kemandirian ekonomi, kemandirian intelektual (mampu berinisiatif, kemandirian berpikir dan menciptakan ide/gagasan), dan kemandirian sosial (mampu berinteraksi dengan orang lain secara mandiri).
Ketiga, profesional, artinya mampu bekerja dengan ihsan dan itqan – tekun, kerja keras, berdisiplin, dan memberikan hasil terbaik. Profesionalisme bisa dibangun dengan memanfaatkan kompetensi, baik yang diperoleh dari pendidikan maupun dari pengalaman.
Kelima, peduli , yakni mau melayani masyarakat, karena pemimpin sejatinya adalah pelayan masyarakat. Keenam, berjiwa kepahlawanan, yakni rela berkorban tanpa pamrih, berani, dan siap menjadi perubah, pelopor dan pemimpin.
Bekal yang harus dimiliki oleh pemuda agen perubahan masyarakat:
  1. Conceptual Skill: kemampuan menciptakan ide-ide dan gagasan-gagasan perubahan.
  2. Technical Skill: kemampuan-kemampuan teknis yang dibutuhkan sebagai solusi atas berbagai problematika masyarakat.
  3. Human Skill: kemampuan berhubungan dan berinteraksi dengan manusia lain (relasi interpersonal) dari berbagai komponen masyarakat yang akan diajak untuk melakukan perubahan bersama-sama.
Lalu apa yang harus dilakukan oleh pemuda sesudah berbekal (tazawwud)? Jawabannya tidak lain adalah bergerak (taharruk) dan beramal, karena nahnu ‘amilun, kita adalah generasi yang gemar bekerja dan beramal.

DO`A MEMANDIKAN MANYAT

Tanya:
Belum lama ini saya ikut memandikan mayat tetangga yang meninggal dunia, bagi saya ini adalah pengalaman yang pertama. Acara pemandian diikuti juga oleh isteri almarhum dan putra perempuannya. Di antara yang memandikan ini ada yang dituakan, sebut saja Bapak X. Sewaktu akan memulai memandikan, dia menyuruh saya untuk membaca doa lebih dahulu, karena saya tidak tahu do’anya maka dia menuntun saya melafadkan do’a tersebut. Setelah dirasa cukup bersih, Bapak X mengakhiri pemandian dengan mewudukan mayat. Adapun yang saya tanyakan kepada pengasuh rubrik Fatwa Agama Suara Muhammadiyah adalah:

1.     Do’a apa yang dibaca ketika akan memandikan mayat?
2.     Setelah dimandikan apakah mayat harus diwudukan?
Jawab:
Saudara penanya, sepanjang penelitian kami tidak ada do’a khusus yang dituntunkan Nabi saw ketika kita akan memandikan jenazah. Oleh karena itu saudara cukup membaca bismillah untuk mengawali segala perbuatan yang baik. Mengenai apakah mayat setelah dimandikan harus diwudukan, kami juga tidak menemukan dalilnya. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Ummu ‘Atiyyah, bukan diakhiri dengan diwudukan, tetapi diawali dengan membasuh badan mayat yang sebelah kanannya dan setelah itu dibasuh anggota wudunya. Hadis tersebut sebagai berikut:

عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهُنَّ فِي غِسْلِ ابْنَتِهِ اِبْدَأْنَ بِمَيَامِنِهَا وَمَوَاضِعِ الْوُضُوءِ مِنْهَا [رواه البخاري ومسلم]

Artinya:  “Dari Ummu Atiyyah bahwasanya Rasulullah saw berkata kepada kami sewaktu kami memandikan putrinya: Mulailah dengan (membasuh) badan sebelah kanannya dan anggota wudunya.” [Muslim, juz III, halaman 48; al-Bukhari, juz II, halaman 72]
 
Pertanyaan Dari:
M. Warsito, Manisrenggo, Klaten

sumber : http://muhammadiyah-sragen.org

Monday, 24 February 2014

PEMUDA DALAM ISLAM

Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bersabda dalam hadits Abdullah bin Mas’ud -radhiallahu ‘anhu-, “Tidak akan beranjak kaki anak Adam pada Hari Kiamat dari sisi Rabbnya sampai dia ditanya tentang 5 (perkara) : Tentang umurnya dimana dia habiskan, tentang masa mudanya dimana dia usangkan, tentang hartanya dari mana dia mendapatkannya dan kemana dia keluarkan dan tentang apa yang telah dia amalkan dari ilmunya”. (HR. At-Tirmizi)
Hadits di atas jelas menunjukkan bahwa masa muda merupakah salah satu nikmat terbesar yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Dan itu sekaligus menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan usia muda dan para pemuda. Karenanya berikut sedikit keterangan mengenai pemuda dalam pandangan islam.
Peran Pemuda Dalam Islam
Tidak diragukan lagi bahwa para pemuda memiliki peran yang sangat penting dalam tatanan kehidupan manusia secara umum dan masyarakat kaum muslimin secara khusus, karena jika mereka adalah para pemuda yang baik dan terdidik dengan adab-adab Islam maka merekalah yang akan menyebarkan dan mendakwahkan kebaikan Islam serta menjadi nakhoda ummat ini yang akan mengantarkan mereka kepada kebaikan dunia dan akhirat. Hal ini dikarenakan Allah -Subhanahu wa Ta’ala- telah memberikan kepada mereka kekuatan badan dan kecemerlangan pemikiran untuk dapat melaksanakan semua hal tersebut. Berbeda halnya dengan orang yang sudah tua umurnya walaupun para orang tua ini melampaui mereka dari sisi kedewasaan dan pengalaman, hanya saja faktor kelemahan jasad -kebanyakannya- membuat mereka tidak mampu untuk mengerjakan apa yang bisa dikerjakan oleh para pemuda.
Oleh karena itulah para sahabat yang masih muda -radhiallahu ‘anhum- memiliki andil dan peran yang sangat besar dalam menyebarkan agama ini baik dari sisi pengajaran maupun dari sisi berjihad di jalan Allah -Subhanahu wa Ta’ala-. Di antara mereka ada Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Amr ibnul Ash, Muadz bin Jabal, dan Zaid bin Tsabit yang mereka ini telah mengambil dari Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- berbagai macam ilmu yang bermanfaat, menghafalkannya, dan menyampaikannya kepada ummat sebagai  warisan dari Nabi mereka. Di sisi lain ada Khalid ibnul Walid, Al-Mutsanna bin Haritsah, Asy-Syaibany dan selain mereka yang gigih dalam menyebarkan Islam lewat medan pertempuran jihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seluruhnya mereka adalah satu ummat yang tegak melaksanakan beban kewajiban mereka kepada agama, ummat, dan masyarakat mereka, yang mana pengaruh atau hasil usaha mereka masih kekal sampai hari ini dan akan terus menerus ada -dengan izin Allah- sepanjang Islam ini masih ada.
Para pemuda di zaman ini adalah para pewaris mereka (para pemuda dari kalangan shahabat) jika mereka mampu untuk memperbaiki diri-diri mereka, mengetahui hak dan kewajiban mereka, serta melaksanakan semua amanah yang diberikan kepada mereka yang berkaitan dengan ummat ini. Dan bagi mereka khabar gembira dari Nabi mereka -Shollallahu alaihi wasallam- tatkala beliau bersabda dalam hadits yang shahih, “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya,” lalu beliau menyebutkan di antaranya, “Seorang pemuda yang tumbuh dalam penyembahan kepada Rabbnya.”
Perhatian Islam Kepada Pemuda
Agama kita Islam yang mulia ini mempunyai perhatian yang sangat besar mengenai pertumbuhan dan perkembangan para pemuda, karena merekalah yang akan menjadi tokoh di masa yang akan datang, yang akan menggantikan dan mewarisi tugas-tugas mulia dari ayah-ayah mereka kepada ummat ini. Berikut beberapa tuntunan Islam yang berkaitan dengan apa yang kita sebutkan:
1.    Islam menuntunkan setiap lelaki untuk memilih istri yang sholihah yang akan lahir darinya anak-anak yang sholeh yang selanjutnya tumbuh menjadi para pemuda yang beraqah dan berakhlak Islamy. Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- bersabda mengingatkan setiap lelaki yang mau mencari istri, “Pilihlah  yang baik agamanya, kalau tidak maka celaka kamu.”
Hal ini dikarenakan jika Allah -Subhanahu wa Ta’ala- memberikan rezki berupa anak-anak dari istri yang sholihah maka dia -sebagai ibu- akan tegak melaksanakan perannya dalam rumah tangganya dalam hal mendidik dan mengarahkan anak-anaknya kepada tuntunan Islam. Ini adalah tuntunan Islam kepada para pemuda sebelum lahirnya.
2.    Memberikan nama yang baik kepada anak, karena nama yang baik itu juga memiliki makna dan pengaruh yang baik pada akhlak sang anak, karena dia merupakan lambang dari doa atau harapan orang tua kepada Allah tentang anaknya. Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- memotifasi setiap orang tua untuk memilih nama yang baik buat anak mereka serta menjauhi nama yang jelek atau nama yang menunjukkan atau mengandung makna yang kurang pantas.
3. Melaksanakan nasikah/aqiqah untuk anak, karena hukumnya adalah sunnah mu`akkadah dan memiliki pengaruh yang baik kepada anak. Ketiga perkara di atas adalah tuntunan Islam kepada para pemuda di awal pertumbuhannya.
4.    Menaruh perhatian yang besar dalam mendidik anak ketika dia sudah memasuki usia mumayyiz dan sudah mempunyai daya tangkap (paham).
Dan telah ada suri tauladan yang baik pada diri Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- dalam hal ini, bagaimana beliau mengajarkan kepada anak-anak dan para pemuda dari kalangan sahabat semua perkara keagamaan dari yang palng besar sampai pada perkara yang paling kecil. Beliau bersabda kepada Ibnu Abbas -radhiallahu ‘anhuma- ketika mengajarkan beberapa perkara aqidah kepadanya, “Hai anak kecil, saya akan mengajarkan kepadamu beberapa perkataan: Jagalah Allah niscaya Dia akan menjagamu, jagalah Allah niscaya kamu akan mendapati Dia berada di depanmu, jika kamu meminta maka minta hanya kepada Allah dan jika kamu meminta pertolongan maka minta pertolongan hanya kepada Allah”. (HR. At-Tirmizi)
Dan beliau bersabda dalam masalah sholat, “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan sholat ketika mereka berumur tujuh tahun dan pukullah mereka karena (mereka meninggalkan) nya ketika mereka telah berumur sepuluh tahun dan pisahkanlah mereka dalam tempat tidur”.
Dan beliau juga pernah menegur Umar bin Abi Salamah ketika dia sedang makan, “Hai anak kecil, bacalah bismillah (sebelum makan), makanlah dengan (tangan) kananmu dan (mulailah) makan dari (makanan) yang terdekat denganmu”. (HR. Muslim)
Dan selainnya dari hadits-hadits yang menunjukkan bahwa Islam menaruh perhatian yang besar terhadap para pemuda, dan Islam mengawasi serta mengarahkan mereka dalam setiap fase umur mereka yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan dan daya tangkap masing-masing pemuda.
Apalagi Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- telah mengkhabarkan dalam hadits Abu Hurairah, “Setiap (anak) yang dilahirkan (pasti) dilahirkan di atas fitrah, kedua orang tuanyalah yang membuat dia jadi Yahudi atau Nashrani atau Majusi”.
Hadits ini menunjukkan bahwa fitrah setiap anak yang dilahirkan adalah kebaikan, kebenaran, dan di atas nilai-nilai Islam, dan fitrah ini jika dijaga oleh kedua orang tuanya dan mereka mengarahkannya kepada kebaikan maka sang anak pasti akan mengarah kepada jalan-jalan kebaikan. Adapun jika kedua orang tua menyimpang dari nilai-nilai Islam dalam mendidik anak-anak mereka maka fitrah ini akan rusak dan ikut menyimpang dari nilai-nilai Islam sesuai dengan pendidikan orang tuanya. Maka jika orang tua adalah Yahudi atau Nashrani atau Majusi maka sang anak akan tumbuh di atas agama yang buruk ini yang secara otomatis telah merusak fitrahnya. Adapun jika orang tuanya adalah muslim yang sholeh, pasti dia akan menjaga fitrah yang mulia ini, yang Allah -Subhanahu wa Ta’ala- telah tempatkan ke dalam hati setiap anak, lalu menumbuhkannya, mensucikannya, dan menjaganya.
5.    Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan setiap anak ketika kedua orang tuanya atau salah satunya sudah berusia lanjut agar dia berbuat baik kepada keduanya atau kepada yang masih hidup di antara keduanya, dan agar sang anak mengingat pendidikan kedua orang tuanya kepadanya ketika dia masih kecil. Allah -Subhanahu wa Ta’ala- menyatakan, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kalian jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kalian berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya telah sampai pada usia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”, janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (QS. Al-Isra` : 23-24)
Sisi pendalilan dari kedua ayat di atas adalah dalam firmanNya, “Sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. Maka perawatan orang tua kepada anaknya adalah suatu nikmat dan kebaikan untuk sang anak yang wajib dia balas kepada kedua orang tuanya. Bukan yang diinginkan dengan perawatan dalam ayat ini hanya terbatas pada perawatan yang sifatnya jasmaniyah saja, dalam artian mencukupi mereka dalam hal makanan, minuman, tempat tinggal, dan selainnya. Karena jika perawatan sebatas pada perkara-perkara tersebut maka tidak ada bedanya dengan perawatan binatang kepada anaknya. Akan tetapi yang lebih penting dari hal itu adalah perawatan maknawiyah berupa menjaga fitrah sang anak agar tetap suci, mengarahkannya kepada kebaikan, menanamkan nilai-nilai Islam pada dirinya, serta membiasakan mereka untuk tumbuh dan berkembang dalam aturan-aturan Islam, inilah perawatan yang akan mendatangkan manfaat yang pengaruhnya akan terus bersama sang anak.
Adapun sekedar merawat mereka dengan perawatan jasmaniyah, maka hal ini justru lebih mendekati kepada perbuatan merusak mereka daripada memperbaiki mereka. Karena seorang anak, jika dipenuhi semua kebutuhannya dari sisi makanan, minuman, dan keinginan tetapi tidak diberikan perawatan maknawi berupa pendidikan keagamaan yang benar maka ini adalah sebesar-besar faktor yang menyebabkan mereka tumbuh di atas sifat-sifat kebinatangan.
Maka jika kedua orang tua merawat anak mereka dengan kedua jenis perawatan ini maka inilah yang merupakan kebaikan besar yang akan terus-menerus dikenang oleh sang anak ketika dia merasakan kebaikan dari kedua orang tuanya sehingga dia bisa berkata sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” Wallahu a’lam bishshawab.